From World for Nagekeo
Headlines News :

FOTO PRE-WEDDING

FOTO PRE-WEDDING
LOKASI : BUKIT ZA'A
Bonie AC Advertise
Support Us With Your Advertise

Terima Kasih Nowela, Terima Kasih LeViCo

JAKARTA (Nagekeo Pos) - Nowela Mikheila, artis penyanyi nasional yang juga jawara di kontes Indonesian Idol 2014, tampil sangat ceria di konser "Nyanyian Jiwa" bersama Iwan Fals yang ditayang MNCTv pada Sabtu pekan lalu (6/2).

Nowela, gadis cantik kelahiran Wamena-Papua pada 19 Desember 1987 itu, tak canggung untuk tampil sebagai sosok gadis dari Nagekeo-Flores dengan mengenakan baju cantik motif tenun Nagekeo.

Terima kasih, ibu Julie Laiskodat, pemilik butik tenun NTT LeViCo, yang sangat antusias memperkenalkan motif tenun Nagekeo di skup nasional dan dunia lewat artis dan penyanyi populer ini.

Kami tidak sempurna, terutama saat membawakan karya beliau, tapi penghargaan dan ucapan terimakasih dr beliau sungguh menggambarkan betapa om @iwanfals mmg sosok living legend yg sampai kapanpun akan berada dihati semua org. Hormat om! Terimakasih atas kesempatan membawakan karya2 om. Terima kasih banyak untuk tim, tulis Nowela di laman instagram (mikhelia)

Peter Witu Wea: terima kasih Nowela yg mengenakan baju bermotif nagekeo di acara Nyanyian Jiwa Iwan Fals..

Ensy D'Love: Nowela cantik dlm balutan busana daerah Flores (Nagekeo)��..konsernya seh dkat kosan,mau nton tp sma aja krn judulnya konser Iwan Fals sdh psti pdat mrayap tu pnontonya dn ujan pula. konsernya dkt kosan sni..mau ntonbtp ga bsaa msuk..pdatnya mnta ampun..hehe

Inne Bella Togo Aso:  Thanks ya Nowela...Udah mau pake baju motif NAGEKEO, kabupatenku tercinta...‪#‎konseroiIwanFalsinMNCTV‬#








Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 5:02 PM

Mangga Nagekeo: Kadis Kesehatan & Kadis Pertanian Berbalas Pantun


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Ada waktu bukit itu hijau, ada waktu yang lain menjadi kuning, coklat, hitam dan gundul. Siapa yang peduli? Anak manusia merasakannya dan mengikuti rona alam.

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 6:25 PM

Tragedi Aekutu Dilaporkan ke Presiden


JAKARTA (Nagekeo Pos) - Tragedi Aekutu medio 26 September 2015 berbuntut pada gangguan keamanan bagi warga masyarakat Desa Aewoe, Kecamatan Mauponggo.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 3:11 PM

Empat Anak Meninggal, Ibu Jalin Hubungan Terlarang?

JAKARTA (Nagekeo Pos) - Bertha, seorang ibu dari Pumbuwae, Nangaroro, berduka lagi karena anaknya yang masih balita meninggal, menyusul tiga kakaknya yang lebih dulu berpulang.

Ini menyedihkan karena Bertha mengalami peristiwa duka secara beruntun. Empat anak yang dilahirkannya telah tiada untuk selamanya.

Weni Frida menulis di lama facebooknya bahwa anak balita (pria) Bertha meninggal di rumah keluarganya di Nangaroro, bermaksud untuk dirawat karena terserang diare.

Kau petik walaupun muda......sedih.....mama Berta yg malang......sdh 4 ank yg engkau lahirkan....belum ada satupun yg berthn hidup lebih lama....ada apa sebenarnya??semua meninggal dunia di usia muda....Yesus....terimlh dia mnjdi sahabtMu....(tulis Weni Frida).

(Nesty Corlina) cma masukan yaaa.... mngkin ad kekeliruan/kesalahan dr ortu bayi/nenek n kakekx x hrus dipecahkn scara klrga/adat.....ini jg pngalaman dr klrga kk sy dlu.....maaf ya klu tdk b'kenan.....hal serupa prn t'jd sma kk kandung sy....4 anak b'turut2 mnggaal smua, t'nyata org tua dr suamix prnh t'jd k'salahan dimasa mudax(ibu dr suami kk sy),,,, stlah smuax dislesaikn.....puji Tuhan skrg sdh punya anak....sdh umur 4 tahun.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 12:59 PM

David Wuda: Kami Butuh Air


Seminggu yang lalu saya menulis di beranda ini satu kabar gembira; Setelah 70 tahun Indonesia merdeka akhirnya listrik menyala juga di desa kami di pulau Flores. Lebih 200 like dan puluhan komentar banjiri status saya tersebut, ini satu petanda bahwa segenap rakyat negeri yang merdeka ini sangat merindukan kemajuan dalam segala bidang, bukan hanya di kota-kota besar tetapi juga di desa-desa terpencil.

Hari ini foto seorang gadis dengan beberapa cerigen di depannya lewat di beranda fb dan menyentuh hati saya untuk menulis tentang kekurangan air di desa kami.

Apa yang dialami gadis ini membuat saya teringat kembali masa kecil di kampungku. Setiap malam ketika masyarakat di daerah lain tidur nyenyak dan dibuai mimpi indah, kami terpaksa mete malam menunggu setetes air dari sebuah sumur tua (Naku Ae Tolo). Kadang berebutan, saling dorong agar bisa berada di barisan depan lingkaran bulat sumur Ae Tolo. Akibat dari rebutan untuk mendapatkan air, seorang gadis pernah terdorong dan jatuh kedalam sumur yang dalamnya sekitar 7 meter.

Kadang air yang bisa diambil hanya cukup untuk minum dan masak makanan. Bagaimana mau mandi? Pengalaman saya setiap pagi ialah mengumpulkan air embun yang bertakung di daun keladi, hehe lumayan bisa buat basuh muka sebelum ke sekolah.

Bapak dan ibu guru kami di sekolah malah mewajibkan setiap murid harus mandi pagi sebelum ke sekolah. Aduhh guru ee, gimana mau mandi kalau untuk minum saja tidak cukup air? Telinga saya sudah sering dijewer bapak guru karena ketahuan menipu, masa basuh muka pake air embun saya bilang sudah mandi ketika ditanya pak guru hehe.

Berita terakhir dari kampung halaman yang berseliweran di beranda fb adalah panas terik dan sampai hari ini belum turun hujan. Iya hujan adalah berkah yang luar biasa bagi kampung halaman kami, karena bisa mendapatkan air percuma dari langit. Caranya? Bila musim hujan, masyarakat akan pasang bambu untuk tadah air dari pohon kelapa dan cara ini sudah biasa turun temurun sejak jamannya kakek nenek kami.

Ritti

Ritti ialah nama desa kami. Ada satu ungkapan dan kadang digunakan untuk syair 'bhea sa' begini:
Ritti gunung tinggi, woso tungga watu, ngawu nggedhe datu. Artinya: Ritti gunung tinggi, yang banyak hanya batu, tapi tidak ada harta kekayaan. Eittt tunggu dulu....siapa bilang desa kami miskin? Miskin harta mungkin iya, tetapi dari desa ini banyak menghasilkan tokoh-tokoh pintar yang sekarang berbakti di kota-kota besar seperti Jakarta, bahkan hingga ke manca negara. Kepada merekalah masyarakat desa ini gantungkan harapan untuk kembali membangun desanya. Iya mudah-mudahan mereka mau mendengar suara kami orang desa. Apa yang kami mampu hanya mera sa'o jaga tana(h) leluhur, agar ketika kamu balik kampung, masih ada kami yang menunggumu.

Peran Pemerintah?

Sangat tidak adil kalau saya bicarakan tentang peran pemerintah di desa kami, karena saya sendiri tidak menetap di desa. Karena sudah pasti, saya tidak tahu apa saja yang sudah / belum dilakukan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di desaku. Harapanku...semoga ada wakil rakyat / DPRD yang mewakili desa kami dan Pemda Nagekeo membaca tulisan ini, dan bisa mencari jalan terbaik, agar masyarakat desa Ritti bisa mendapatkan setetes air segar untuk menghilangkan dahaga.

Salam.
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 5:04 PM

MENEROPONG TRANS SELATAN NAGEKEO, MEMPRIHATINKAN


Oleh : Barce Alfred Jawa

Jalur transportasi darat selatan Nagekeo yang menghubungkan Nangaroro-Maunori (Keo Tengah) – Raja (Boawae) sangat memprihatinkan. Jalur antar lintas ketiga kecamatan ini kian hari, kian buruk dan bahkan kian terpuruk semenjak awal dirintis oleh pendahulu kita.

Kondisi jalan yang rusak dan bahkan belum tersentuh penanganan serius oleh pemerintah Nagekeo, menambah daftar panjang penderitaan masyarakat pesisir selatan. Kondisi ini pula diperparah dengan pengerjaan asal-asalan yang nota bene tambal sulam, jauh ditinjau dari aspek keselamatan dan kenyamanan, terkesan tidak adanya keseriusan perhatian ekstra dari pemerintah.

Jalan yang merupakan pemersatu antar suku dan budaya, kini belum terjawab seutuhnya, akibatnya lalu lintas sebagai pendongkrak ekonomi rakyat terkesan carut-marut,tidak ada perubahan dan kemajuan, mandek dan berjalan di tempat.

Trans selatan Nagekeo ini, yang merupakan warisan penjajah, hingga kini tidak ada perubahan yang signifikan, pemerintah dinilai lamban menanganinya. Pembangunan beberapa periode digelontorkan, semenjak kabupaten Nagekeo dimekarkan dari kabupaten induk, kabupaten Ngada, dan telah beberapa kali Kepala Daerah Tingkat II digantikan, pembangunan desentralisasi di Nagekeo bagian utara.

Kesetaraan dan pemerataan akan pembangunan pun, belum terbias nyata ke segala sektor di Nagekeo, tak terlepas pula di wilayah Nagekeo selatan. Hal ini yang akan menjadi dasar pertanyaan dan refleksi bathin pemerintah kita atas janji manis yang telah dikumandangkan pada kampanye menjelang pilkada silam. Lantaran, telah lama rakyatmu menanti janji, telah lama pula rakyatmu menunggu hasil, kapan terwujud dan direalisasikan. Entah kapan penantian panjang ini akan berakhir?

Dari pantauan penulis yang sering melintasi jalur ini, memaksa pemerintah untuk segera menindaklanjutinya. Ini bentuk keprihatinan yang tak berujung akan kondisi jalan yang kurang layak,pun keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan terabaikan. Bila kita susuri sepanjang jalur lintas pantai selatan dari Nangaroro ke arah Maunori, hingga Kota Keo sampai persimpangan pasar Raja, ataupun sebaliknya, akan kita jumpai ada beberapa titik rawan yang perlu penanganan serius.

Dari hasil jajakan kaki, penulis ingin menceritakan dari beberapa titik rawan yang pernah ditelusuri,yang disinyalir rawan kecelakaan dan mengancam keselamatan.
Pertama. Di jalan tanjakan dan tikungan Ae Bajo, kampung Bhondo, desa Woewutu, kecamatan Nangaroro, pada titik ini, dari kedua arah terkesan rawan kecelakaan dan terkadang kendaraan roda empat terperosok dan bahkan kendaraan roda dua sering terjungkal karena licin (tanah merah) saat musim penghujan tiba. Perlu segera ditindaklanjuti dan ditangani oleh instansi terkait,dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Nagekeo, Bidang Bina Marga, segera menyikapinya.

Kedua. Titik rawan berbahaya dan sempit Besi Mele, dekat kampung Ma’uliti, desa Tonggo, kecamatan Nangaroro, dan sangat mengundang maut. Jalan sempit dengan himpitan tebing cadas yang sangat menantang maut juga tikungan pendek penghalau pandangan, riskan bagi pengendara dari kedua arah.

Jalur tengkorak ini sangat membahayakan pengendara bila kurang berwaspada,jurang dalam menanti di sana. Lokasi ini dibangun sejak tahun 1973 dan kelanjutan pengerjaannya hingga di Dowo Dambe, di akhir tahun 1970-an oleh kontraktor pelaksana Filma (Fa) Rada Wea, Bajawa, hingga kini masih terbengkalai, tidak ada kelanjutannya.

Ketiga. Masuk wilayah desa Podenura, sungai (kali mati) Dowo Sude, sangat ditakuti masyarakat ketika musim penghujan tiba. Jalan yang dibangun seadanya melintasi Kali Dowo Sude, sebagai pemersatu dan antar lintas kedua kecamatan ini harus segera diprioritaskan.

Teringat di tahun 1996 silam, prahara menerjang Kali Dowo Sude. Banjir bandang telah melanda dan meluluhlantakan serta memporakporandakan segala hasil bumi, ternak, pasar, sekolah, mess guru, poliklinik, lapangan bola, pemukiman dekat bantaran kali, juga jalan, sarana penghubung alternatif antar kampung pun tergerus dan hanyut ke laut.

Segala material, batu, pasir, pepohonan tak luput dari amukan air bah kala itu. Setelah peristiwa memilukan itu, dan kini tinggalkan kenangan pahit, traumatis masih membekas di sanubari masyarakat Podenura juga kampung tetangganya.

Sepanjang mata memandang,terlihat onggokan dan hamparan batu menebar di mana-mana. Jika masuk musim penghujan seperti sekarang, dan jika hujan dengan intensitas tinggi di hulu, rasa kekhawatiran dan rasa takut menyelimuti masyarakat kita akan pristiwa serupa kembali terulang.

Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah (PR), bagi aparat desa dan masyarakat untuk kembali mereboisasi hutan yang telah gundul dan rusak di bawah kaki gunung (Kedi) Koto dan Kedi Reo dan sepanjang aliran sungai, akibat keserakahan manusia.

Keempat. Tanjung mitos Po Penga, Ngadu Tangi, desa Kotodirumali, kecamatan Keo Tengah, tempat ini sering diselimuti ketakutan bagi mereka yang sesekali menempuh jalur ini. Jalan lumayan bagus, karena dibantu tembok penyokong dari bibir pantai. Hanya saja perlu pelebaran dan pengerukan tebing, agar pengguna jalan tidak terasa was-was dari longsoran ketika musim penghujan tiba, hingga ke Watu Wawi.

Kelima. Tikungan pendek menantang maut Watu Kembi, sebelah timur kampung Keka Kodo, desa Kotodirumali, kecamatan Keo Tengah, juga sangat beresiko tinggi dan butuh berkonsentrasi penuh serta berhati-hati bagi kendaraan roda empat atau lebih, karena harus melalui dua tikungan pendek menikuk tajam, pada titik ini karena adanya lidah batu cadas tebing yang menjulur, sehingga sedikit menyulitkan kendaraan roda empat atau lebih memacu kecepatan.

Jangan lengah lalui titik ini, setiap saat maut dan jurang dalam mengancam. Jalur lintas sebaliknya pun akan kita jumpai kondisi serupa. Contoh nyatanya,dari pertigaan pasar Raja hingga ke Maunori, jalan beraspal banyak pecah dan rusak, sana sini jalan berlubang.

Sangat membahayakan pengendara, khususnya roda dua bila melintasi pada malam hari. Tidak ada penerangan jalan di tempat yang berpotensi rawan kecelakaan. Tak ada pula drainase di sisi jalan. Badan jalan kurang lebar alias sempit, sehingga sangat menyulitkan para pengemudi kendaraan roda empat atau lebih bila berpapasan.

Banyak tanjakan dan tikungan pendek, menurun tajam, bahkan tidak ada pengaman sejenis pagar terbuat dari besi, yang dipasang di sisi jalan yang dianggap rawan kecelakaan, sebagai pengingat pengguna jalan agar selalu berhati-hati dan waspada, karena setiap saat maut mengancam.

Terlebih di beberapa tempat (menurut orang kita), dianggap mistis dan angker, hal inilah yang dikaitkan penyebab utama kecelakaan. Ingatkah kita akan tragedi maut yang merenggut sebelas korban jiwa di Iru Eti beberapa tahun silam, saat sebuah mobil (bus kayu) terjungkal bebas masuk jurang? Akankah prahara ini kembali terulang? Haruskah kita menunggu akan bertambahnya korban jiwa dari kelalaian wakil rakyat kita? Padahal jalur selatan Nagekeo ini sering dilintasi petinggi-petinggi pemerintahan kita, dengan kendaraan berplat merah.

Pertanyaannya. Kemanakah nurani mereka saat menerjang jalan berlumpur dan berbatu? Kemanakah dana pajak tiap tahun yang dihimpun dari rakyat? Konon,pernah didengungkan pemerintah sekarang, jalur transportasi darat selatan Nagekeo adalah jalan provinsi yang harus segera dibangun.

Lantaran, wilayah selatan Nagekeo ini,daerah berpotensi dengan komoditi melimpah penunjang ekonomi Nagekeo, bahkan diekspor antar pulau dan antar provinsi. Ini potret realita akan kesedihan, kita hidup di era kemerdekaan, di mana sudah tujuh puluh tahun Indonesia, dari sisi kemajuan dan teknologi pun, kita sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan saudara-saudara kita di Indonesia lainnya seperti: Pertama, Jalur Transportasi Darat (Jalan Raya). Kedua, Penerangan (PLN). Ketiga, Telekomunikasi (Tower BTS).

Kita masih terkungkung akan keterbelakangan atas kemajuan di segala sektor pembangunan. Inilah yang menjadi dasar dan tolak ukur wakil rakyat kita, lebih getol lagi memperjuangkan aspirasi rakyatnya.

Sebagai pemimpin dan wakil rakyat, lantangkan suaramu demi Nagekeo ke depan. Kami sebagai masyarakat dan rakyatmu ingin buktikan peran anda akan janji kampanye yang membius. Jangan jadikan kampanye dengan manisnya janji, retorika, basa-basi, yang kini jadi teka-teki?

Untuk dikaji. Di pesisir selatan Nagekeo ini, terbentang dari Nangaroro hingga Keo Tengah, meskipun kontur tanahnya yang tidak merata dengan punggung bukit yang banyak, sejatinya di kawasan selatan Nagekeo ini, harus ditata dan dikelola dengan nilai estetika yang baik, sehingga akan menjadi salah satu destinasi dan nilai tambah bagi penduduknya, juga tentunya ini akan mendatangkan devisa serta menjadi daya tarik obyek wisata bagi pelancong yang datang ke wilayah ini.

Pantai selatan dengan teluk dan tanjung yang indah, hamparan luas laut membentang biru nan bersih, panorama alamnya yang asri, sungguh memukau dan menakjubkan, masih perawan dan belum terjamah tangan.

Jangan lupakan teluk Nangaroro hingga ke pesisir barat pantai Kampung Baru, dengan pasir hitam berkilau membentang, selalu siap menyapa pengunjung yang datang menikmati gulung dan derunya ombak akan hangatnya laut di pagi hari, siang ataupun senja hari.

Deretan nyiur melambai-lambai sepanjang pantai, pertanda senang menyapa akan pengunjung yang datang untuk bersantai-ria, bercengkarama bersama keluarga sambil menikmati indahnya alam pantai. Karena seminggu penuh telah direpotkan dengan kesibukan dan kepenatan, sewajarnya kita sempatkan diri ke sana, tempat rekreasi favorit, rekreasi dambaan bagi keluarga, yang ingin menikmati suasana alam pantai dengan udara bersih tanpa polusi.

Beruntung lagi,bagi mereka yang berhoby memancing. Hanya sayang, belum ada yang melirik akan beberapa tempat rekreasi yang penuh menjanjikan ini. Ini yang menjadi dorongan akan pemikiran cerdas dan obyektif, terlebih kepada generasi muda Nagekeo yang terdorong dengan etos membangun serta dedikasi yang tinggi, untuk bersama membangun Nagekeo ke depan.

Jadikan panorama alam pantai selatan dalam event pariwisata Nagekeo, sebagai ajang promosi di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai generasi yang peduli dan kecintaan akan Nagekeo, kami bangga dan terus berkarya demi Nagekeo di masa datang. Semoga...
Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 10:05 AM

MIMPI SAYA TENTANG SOETAMI


Oleh Giorgio Babo Moggi (24 November 2014)

Suatu hari, awal tahun 2013, usai memantau pelaksanaan UN di SMAK Baleriwu, Rinto, teman seperjalanan dari Kupang, mengajak saya jalan-jalan ke Bendungan Soetami Mbay.

Written by: Nagekeo Bersatu
NAGEKEO BERSATU, Updated at: 1:54 PM
 
Join Our Group On Facebook
Follow Us
Support Us With Your Advertise

VESAM ETNIK

VESAM ETNIK
Admin: Hans Obor | Mozalucky | Nagekeo Bersatu
Copyright © 2013. NAGEKEO POS - All Rights Reserved
Thanks To Creating Website Modify and Used by Nagekeo Bersatu
Proudly powered by Blogger